IMPLEMENTASI SUPERVISI KLINIS
KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU PAI DI SMPN 2 DAN 3 WABULA
KABUPATEN BUTON
Oleh : Hairudin
ABSTRAK
Tujuan
penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisa tentang: (1) Implementasi
supervisi klinis kepala sekolah dalam
meningkatkan kinerja guru PAI di SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton.
(2) Pemahaman kepala sekolah tentang supervisi klinis dalam meningkatkan
kinerja guru PAI di SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton. (3) Upaya yang
dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru PAI di SMPN 2 dan 3
Wabula Kabupaten Buton. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif. Metode yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis
dilakukan dengan collection data, reduction data, dan display data. Untuk menguji
keabsahan data penulis menggunakan perpanjangan keikutsertaan di lapangan dan triangulasi metode. Hasil penelitian sebagai berikut: (1) Kepala sekolah SMPN 2 dan 3
Wabula Kabupaten Buton telah
melakukan supervisi secara objektif dalam kegiatan mengajar (2) 2) Kepala
sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton cukup memahami pelaksanaan
supervisi klinis. (3) Upaya yang
dilakukan oleh Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton memberikan
semangat dan motivasi kepada guru PAI untuk terus melakukan pembenahan diri dan
perubahan yang baik untuk meningkatkan kinerjanya. Implikasi dari penelitian
ini memberikan kontribusi secara langsung terhadap Kepala Sekolah dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai sepurvisor. Terutama berkaitan
dengan supervise klinis. Hasil penelitian ini dapat memperkaya konsep atau
teori yang menyokong perkembangan pengetahuan tentang supervise klinis di
berbagai sekolah di Kabupaten Buton.
Kata kunci: Supervisi Klinis, Kinerja Guru PAI.
PENDAHULUAN
Hasil Uji Kompetensi Guru yang telah dilaksanakan Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan Penjaminan Mutu
Pendidikan (BPSDMPK dan PMP) Kemendikbud Kabupaten Buton menunjukan kompetensi
guru PAI masih rendah. Menurut Kepala BPSDMPK dan PMP Kemendikbud Kabupaten Buton,
UKG merupakan ujian untuk mengukur kompetensi dasar tentang tentang bidang
studi (subject matter) dan pedagogik dalam domain content guru. Hasilnya,
sebanyak 42 guru PAI di Kabupaten Buton hanya memperoleh rata-rata nilai UKG
sebesar 47. Kompetensi dasar bidang studi yang diujikan bagi seluruh guru itu,
sesuai dengan bidang studi sertifikasi bagi guru yang sudah bersertifikat
pendidik. Sedangkan bagi guru yang belum bersertifikat pendidik, disesuaikan
dengan kualifikasi akademik guru.
Kondisi ril guru PAI di Kabupaten
Buton sebagai berikut:
1.
Guru PAI di SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton tidak menekuni profesinya secara
utuh. Hal ini disebabkan oleh guru bekerja di luar jam kerjanya untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sehingga waktu untuk membaca dan menulis
untuk meningkatkan diri tidak ada;
2.
Belum adanya standar profesional guru PAI di SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton sebagaimana tuntutan di sekolah-sekolah
maju;
3.
Kemungkinan
disebabkan oleh adanya perguruan tinggi swasta sebagai pencetak guru PAI yang
lulusannya asal jadi tanpa mempehitungkan outputnya kelak di lapangan sehingga
menyebabkan banyak guru yang tidak patuh terhadap etika profesi keguruan;
4.
Masih
belum berfungsi PGRI di Kabupaten Buton sebagai organisasi profesi yang
berupaya secara makssimal meningkatkan profesionalisme anggotanya.
Kecenderungan PGRI bersifat politis
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.
Penulis adalah instrument utama dalam penelitian ini sehingga kehadiran penulis
sebagai peneliti mutlak diperlukan. Informan kunci adalah kepala sekolah dan
guru PAI di SMPN 2 dan 3 Wabula
Kabupaten Buton. Sumber data primer yang diperoleh oleh
peneliti adalah hasil wawancara dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah,
guru PAI, siswa dan komite sekolah. Sedangkan sumber data sekunder yang
diperoleh langsung dari pihak-pihak yang berkaitan berupa data-data sekolah dan
berbagai literatur yang relevan dengan pembahasan, seperti: wawancara dari
masyarakat sekitarnya, arsip-arsip sekolah, dan lain-lain. Pengumpulan data
dilakukan dengan dengan cara observasi; yakni penulis terlibat secara langsung
selama mengobservasi pelaksanaan supervisi klinis terhadap guru PAI. Wawancara,
digunakan oleh penulis dengan tujuan untuk memperoleh data yang berkaitan
dengan pelaksanaan supervisi klinis kepala sekolah. Dokumentasi, digunakan
untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan,
transkrip, buku, surat kabar, majalah, notulen rapat, agenda dan sebagainya. Untuk
menguji keabsahan data penulis menggunakan perpanjangan keikutsertaan di lapangan dan triangulasi metode.
HASIL
PENELITIAN
A.
Implementasi supervisi klinis
kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru PAI di SMP Negeri 2 dan 3 Wabula
Kabupaten Buton.
1.
Pemahaman
Kepala Sekolah tentang supervisi klinis
Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3
Wabula Kabupaten Buton memahami tentang supervisi klinis. Sebagai hubungan
tatap muka antara supervisor dalam hal ini Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula
Kabupaten Buton dengan guru PAI yang berfokus pada tingkah laku yang sebenarnya
dari guru PAI yang mengajar di kelas, maksudnya adalah tingkah laku yang
sewajarnya, tidak dibuat buat.
2. Pelaksanaan supervisi klinis
Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton
melakukan supervisi klinis ketika diminta oleh guru PAI pada saat melakukan
proses belajar mengajar. Dan pelaksanaan supervisi klinis satu kali dalam
1 (satu) semester dan dilakukan sendiri oleh Kepala Sekolah. Konsep supervisi
klinis sebagai suatu teknik pendekatan dalam pembelajaran guru PAI merupakan
suatu pola yang didasarkan pada asumsi dasar bahwa proses belajar guru PAI untuk berkembang dalam jabatannya tidak
dapat dipisahkan dari proses belajar yang dilakukan guru PAI tersebut.
Supervisi klinis sebagai suatu teknik memiliki langkah-langkah tertentu yang
perlu mendapat perhatian untuk mengemba-ngkan profesionalitas
guru PAI.
3. Langkah-langkah supervisi klinis
Langkah-langkah supervisi klinis yang dilakukan oleh Kepala Sekolah SMPN
2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton mulai dari perencanaan awal. Pada tahap ini
beberapa hal yang harus diperhatikan adalah: (a) menciptakan suasana yang intim
dan terbuka, (b) mengkaji rencana pembelajaran yang meliputi tujuan, metode,
waktu, media, evaluasi hasil belajar, dan lain-lain yang terkait dengan
pembelajaran, (c) menentukan fokus obsevasi, (d) menentukan alat bantu
(instrumen) observasi, dan (e) menentukan teknik pelaksanaan obeservasi. Tahap
pelaksanaan observasi. Pada tahap ini beberapa hal yang harus diperhatikan,
antara lain: (a) harus luwes, (b) tidak mengganggu proses pembelajaran, (c)
tidak bersifat menilai, (d) mencatat dan merekam hal-hal yang terjadi dalam
proses pembelajaran sesuai kesepakatan bersama, dan (e) menentukan teknik
pelaksanaan observasi. Tahap akhir (diskusi balikan). Pada tahap ini beberapa
hal yang harus diperhatikan antara lain: (a) memberi penguatan; (b) mengulas
kembali tujuan pembelajaran; (c) mengulas kembali hal-hal yang telah disepakati
bersama, (d) mengkaji data hasil pengamatan, (e) tidak bersifat menyalahkan,
(f) data hasil pengamatan tidak disebarluaskan, (g) penyimpulan, (h) hindari
saran secara langsung, dan (i) merumuskan kembali kesepakatan-kesepakatan
sebagai tindak lanjut proses perbaikan.
4. Perubahan terhadap kinerja guru PAI
setelah dilakukan supervisi klinis
Terjadi perubahan yang signifikan terhadap guru PAI
setelah dilakukannnya supervisi klinis. Adapun perubahan-perubahan itu antara
lain terciptanya kondisi atau iklim sekolah yang kondusif, cara mengajar guru
PAI yang menyenangkan siswa, penguasaan guru PAI terhadap media pembelajaran,
metode, strategi, pendekatan dan model pembelajaran PAI. Selain itu prestasi
belajar siswa meningkat.
5. Kerja sama dengan pengawas PAI
dalam supervisi klinis
Pelaksanaan supervisi klinis yang dilakukan oleh Kepala
Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton merupakan perpanjangan
tangan dari pengawas PAI di Kantor kementerian Agama kabupaten Buton, sebab
pengawas PAI tidak rutin ke sekolah disebabkan kondisi geografis sekolah
tersebut cukup sulit untuk dijangkau.
B. Pemahaman
kepala sekolah tentang supervisi klinis dalam meningkatkan kinerja guru PAI SMP
Negeri 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton
1.
Masalah
yang terjadi dalam proses pembelajaran
Kondisi ril yang
terjadi sebelum dilakukannnya supervisi klinis bahwa guru PAI tidak memiliki
perangkat pembelajaran yang lengkap sehingga mendorong bagi Kepala
Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton untuk melakukan supervisi
klinis. Selain itu berkurangnya motivasi para peserta didik untuk belajar atau
berpartisipasi di dalam belajar; semakin banyak siswa yang membolos pada
saat jam pelajaran di mulai; sering terjadi perkelahian antara siswa baik dari
sesama sekolah maupun dengan siswa di sekolah lain atau masyarakat;
prestasi siswa yang semakin rendah dan mengalami kemerosotan nilai;
semakin menipisnya etika dan kesopanan di dalam belajar. Kepala
Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton memberikan motivasi dan
dorongan kepada guru PAI agar menjalankan tugas dengan baik dan maksimal sesuai
dengan tugas pokok dan fungsinya. Berdasarkan hal itu maka dalam upaya
peningkatan kinerja guru PAI harus memperhatikan performansi guru berkaitan
dengan pembelajarannya yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan.
Salah satunya adalah melalui kegiatan supervisi klinis. Supervisi klinis
dilakukan untuk meningkatkan kemampuan guru PAI dalam pembelajaran secara umum
baik di kelas maupun di luar kelas.
2. Limit waktu memberikan umpan balik setelah
melaksanakan supervisi klinis
Pelaksanaan
umpan balik dilakukaan pada saat supervisi berlangsung dan kesalahan guru dapat
diberitau pada saat itu tanpa menunggu waktu yang lama. Ini ada kaitan erat
dengan persepsi guru PAI tentang supervisi klinis Kepala Sekolah SMPN 2
dan 3 Wabula Kabupaten Buton sebagai bahan penilaian kepala sekolah dalam
melakukan supervisi klinis. Melalui persepsi guru PAI dapat diketahui
kekurangan dan kelebihan pelaksanaan supervisi klinis Kepala Sekolah SMPN 2
dan 3 Wabula Kabupaten Buton.
3.
Strategi pembelajaran yang digunakan guru PAI
Guru
PAI di SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton belum memahami dan menampilkan
secara utuh tentang berbagai strategi pembelajaran sehingga mendorong Kepala
Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton untuk terlibat melakukan
supervisi klinis dalam rangka memperbaiki guru PAI. Untuk meningkatkan kinerja guru PAI dan mutu
pembelajaran dilakukan kegiatan supervisi kepada guru yang dianggap paling
menentukan atau menjadi ujung tombak keberhasilan pendidikan. Tetapi dalam
kenyataan seperti dinyatakan oleh Kepala
Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton bahwa selama ini pelaksanaan
supervisi klinis masih kurang mendukung usaha pembaharuan dan peningkatan
kinerja guru PAI dan mutu pembelajaran yang disebabkan banyaknya permasalahan.
Salah satu bentuk supervisi pendidikan adalah supervisi pengajaran yang dapat
dilakukan dengan pendekatan klinikal untuk meningkatkan mutu/ profesionalitas
guru.
C.
Upaya yang dilakukan kepala sekolah
dalam meningkatkan kinerja guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 dan 3
Wabula Kabupaten Buton
1. Upaya-upaya
yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja guru PAI
Upaya yang dilakukan
oleh Kepala
Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton memberikan semangat dan
motivasi kepada guru PAI untuk terus melakukan pembenahan diri dan perubahan
yang baik untuk meningkatkan kinerjanya. Upaya-upaya Kepala Sekolah SMPN 2
dan 3 Wabula Kabupaten Buton dalam pelaksanaan supervisi klinis ini diasumsikan
akan meningkatkan mutu pengajaran, yang berarti pula ada peningkatan mutu
pendidikan. Supervisi klinis pada dasarnya merupakan suatu bantuan yang
diberikan kepada guru PAI menuju guru yang professional, yakni dengan melakukan
pembinaan kinerja guru PAI dalam mengelola proses belajar mengajar. Pelaksanaan
bimbingan pun dilakukan secara professional.
2. Kendala
yang hadapi dalam melaksanakan supervisi klinis
Guru yang mengajar PAI di SMPN 3
Wabula Kabupaten Buton tidak memiliki disiplin ilmu sesuai profesi yang
ditekuni. Hal ini banyak menimbulkan persoalan internal yang dihadapi oleh SMPN
2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton. Guru mengalami kesulitan dalam melaksanakan
pembelajaran pada mata pelajaran yang diampunya. Kesulitan tersebut dapat
disebabkan oleh karakteristik mata pelajaran sehingga sulit dipahami atau
kesulitan dalam aspek-aspek teknis metodologis sehingga bahan ajar kurang
dipahami peserta didik. Dalam mengembangkan profesi guru PAI memerlukan batuan
yang kalau dikaitkan dengan pengembangan profesi sebagai guru yang betul-betul
professional dalam bidangnya.
PEMBAHASAN
A. Implementasi
supervisi klinis kepala sekolah
dalam meningkatkan kinerja guru PAI di SMP Negeri 2 dan 3 Wabula Kabupaten
Buton
1.
Pemahaman
Kepala Sekolah tentang supervisi klinis
Pendekatan
klinis dalam supervisi pembelajaran merupakan konvergensi antara pendekatan
ilmiah dan pendekatan artistik, yaitu supervisi dilakukan secara kolegial oleh
supervisor dengan guru, sehingga kemampuan mengajar guru dapat ditingkatkan.
Supervisi pembelajaran dengan pendekatan klinis ini dilakukan melalui pertemuan
tatap muka antara supervisor dengan guru, membahas tentang mengajar di dalam
kelas guna perbaikan pembelajaran dan pengembangan profesi. Konsep supervisi
klinis dalam Islam dapat menggunakan konsep seperti apa yang disampaikan dalam
Al Qur’an, Surat Al-Mujaadilah: 11 mengenai sopan santun dalam menghadiri
majelis Nabi.
Memaknai
ayat tersebut dalam supervisi klinis, yaitu bahwa kepala sekolah selaku
supervisor tetap harus menjaga etika dan ketenangan guru PAI dan murid
yang sedang dalam menjalankan proses belajar mengajar. Supervisi klinis
merupakan aktifitas langsung mengamati praktik belajar mengajar guru PAI di
dalam kelas, oleh karena itu, kegiatan supervisi klinis jangan sampai menganggu
aktifitas belajar mengajar. Artinya, jangan sampai Kepala
Sekolah sebagai supervisor menjalankan tugasnya namun di sisi lain hak
murid untuk memperoleh ilmu, terganggu karena kehadiran supervisor
di kelas. Dalam konteks pendidikan,
supervise pendidikan dapat didefenisi-kan sebagai
aktifitas supervisor yang dilakukan untuk mengawasi apakah guru
telah merancang dan menjalankan desain instruksional dengan benar dalam praktik
mengajar di kelas. Setelah mengamati seluruh proses yang dilakukan oleh guru
dalam mengajar, selanjutnya supervisor memberikan kritik
objektif dengan tujuan memperbaiki yang sudah dilakukan guru di kelas. Dalam
dunia pendidikan, supervisi klinis dilakukan bukan untuk menghakimi guru melakukan
kesalahan dalam praktik mengajar. Tetapi lebih kepada pembinaan yang
mengarah pada penngkatan profesionalisme, bahkan seharusnya berdampak pada
promosi karir guru, ketika guru benar-benar telah menjalankan tugas dengan baik
Supervisi
klinis dilakukan untuk mencapai keterampilan guru dalam mata
pelajarannya. Olehkarena itu Kepala Sekolah sebagai supervisor harus
memiliki konsep, dan keterampilan dalam melakukan supervisi klinis. Tugas Kepala
Sekolah sebagai supervisor tidak hanya mensupervisi untuk
merefleksikan praktek dan mengembangkan pemahaman, dan cara baru dalam kerja
sebagai guru, tetapi supervisor juga mengajar dalam
sebuah formal sense. Melalui supervisi klinis Kepala Sekolah dapat
dikembangkan keahlian-keahlian baru dan strategi-strategi yang direplikasi sesuai
kebutuhan. Hasil dari kerja Kepala Sekolah sebagai supervisor klinis ini
akan berdampak pada motivasi murid dalam belajar sehingga tercipta atmosfir
yang menarik dalam pembelajaran. Selain untuk
memperbaiki desain instruksional, supervisi klinis juga memberi kesempatan para
guru PAI dalam promosi karirnya, karena dianggap telah menjalankan kewajibannya
dengan bertanggung jawab. Dengan adanya promosi ini guru kemudian akan
memotivasi diri sendiri untuk memperoleh pengembangan diri.
2. Pelaksanaan
supervisi klinis
Sebenarnya pelaksanaan supervisi itu tidak saja atas
permintaan guru, tetapi merupakan tugas dan tanggung jawab kepala
sekolah. Sebab kepala sekolah adalah seorang pemimpin yang memonitoring pekerjaan
guru yang berada dalam pengawasannya. Setelah mengamati praktik
profesional guru, selanjutnya kepala sekolah selaku supervisor berkewajiban
menganalisis dan mengevaluasi dari apa yang telah langsung dilihatnya di
lapangan. Supervise klinis harus difokuskan pada peningkatan mengajar guru
melalui siklus yang sistematis antara lain planning, eksen malalui pengamatan,
dan evaluasi. Sebagaimana Richard Weller yang dikutip oleh Acheson dan
Gall (2011:98) “supervisi klinis difokuskan pada peningkatan mengajar dengan
melalui sarana siklus yang sistematis dalam perencanaan, pengamatan, serta
analisis yang intelektual dan intensif mengenai penampilan mengajar yang nyata
di dalam mengadakan perubahan dengan cara yang rasional”. Jadi jika dikaji
berdasarkan istilah dalam “klinis”, mengandung makna: (1) pengobatan (klinis)
dan (2) siklus, yaitu serangkaian kegiatan yang merupakan daur ulang. Oleh
karena itu makna yang terkandung dalam istilah klinis merujuk pada unsur-unsur
khusus, sebagai berikut: (a)
Adanya hubungan
tatap muka antara pengawas dan guru di dalam proses supervisi. (b) Terfokus pada tingkah laku yang sebenarnya di
dalam kelas. (c) Adanya
observasi secara cermat. (d) Deskripsi pada observasi secara rinci. (e) Supervisor dan guru bersama-sama menilai
penampilan guru.
(g) Fokus observasi
sesuai dengan permintaan kebutuhan guru.
3.
Langkah-langkah supervisi klinis
Langkah-langkah supervisi
klinis mulai dari perencanaan awal, pelaksanaan maupun evaluasi. Langkah-langkah
yang harus dikuasai oleh kepala sekolah selaku supervisor klinis
adalah:
a) Melakukan
pertemuan awal. Adapun aktivitas pada pertemuan awal adalah sebagai
berikut: (1) Supervisor membentuk report kepada guru; (2) Supervisor bersama-sama
dengan guru PAI membicarakan rencana pembela-jaran telah dibuat
oleh guru; (3) Supervisor bersama-sama dengan guru mengenali
jenis-jenis keterampilan mengajar; (4) Supervisor bersama-sama dengan
guru mengembangkan intrumen yang akan dipakai sebagai penduann untuk
mengobservasi keterampilan mengajar guru.
b) Melakukan
observasi mengajar. Aktivitas-aktivitas dalam melakukan observasi, meliputi
hal-hal sebagai berikut : (a) Memasuki rungan kelas yang akan diajarkan oleh
guru bersama-sama dengan guru; (b) Guru menjelaskan kepada siswa tetang maksud
kedatanga supervisor ke ruang kelas; (c) Guru mempersilakan kepada supervisor menempati
tempat yang telah disediakan; (d) Supervisor mengobservasi
penampilan mengajar guru dengan menggunakan format observasi yang telah
disepakati; (e) Setelah proses belajar mengajar selesai, guru bersama-sama
supervisor meninggalkan ruangan kelas dan berpindah kerungan khusus untuk
melaksanakan aktivitas supervisi.
c) Mengadakan
pertemuan balikan. Di antara langkah-langkah dalam kegiatan pertemuan balikan,
yaitu sebagai berikut : (a) Supervisor memberikan penguatan kepada guru; (b) Supervisor
bersama-sama dengan guru membicarakan kembali kontrak yang pernah dilakukan; (c)
Supervisor menunjukkan hasil observasi yang ia lakukan berdasarkan format atau
intstrumen observasi yang pernah disepakati; (d) Supervisor menanyakan kepada
guru bagaimana perasaannya dengan hasil observasi tersebut; (e) Supervisor
bersama-sama dengan guru menyimpulkan hasil pencapaian latihan pembelajaran
yang telah dilakukan.
Sebagaimana
Kimball
Wiles (1995) dalam Arikunto (2004:11) berpendapat bahwa “pelaksanaan
supervisi klinis berlangsung dalam suatu siklus yang terdiri dari tiga tahap
yaitu (1) Tahap perencanaan awal, (2) Tahap
pelaksanaan observasi, (3) Tahap akhir (diskusi balikan)”.
4. Perubahan
terhadap kinerja guru PAI setelah dilakukan supervisi klinis
Jika merujuk
pada tujuan kegiatan supervisi adalah menciptakan atau menjaga kondisi atau
iklim sekolah supaya berada dalam situasi yang kondusif untuk terjadinya
pengembangan pengajaran. Kegiatan supervisi dapat berlangsung secara
efektif apabila suasana lingkungan sekolah dalam keadaan tenang, tidak mencekam.
Suasana yang tidak mencekam bagi pengembangan pembelajaran adalah suasana di
mana setiap personal yang terlibat di dalam kegiatan pengajaran (guru, kepala
sekolah, murid dan pegawai tata usaha) hatinya tentram, pasrah, dapat saling
berhubungan satu sama lain dalam suasana kekeluargaan dengan bebas tanpa ada
rasa takut. Masih tambah lagi satu syarat, yaitu bahwa setiap personal yang
terlibat dalam pengembangan tersebut berada dalam posisi terpenuhinya kebutuhan
pribadinya. System manajemen di dalam organisasi sosial seperti yang
digambarkan tersebut bersifat partisipatif, dan ditandai oleh kepemimpinan yang
mendukung, motivasi yang tinggi, hubungan antar pribadi sangat dekat, kerja
sama yang baik, ada kesetiaan kelompok, tanggung jawab atas tugas masing-masing,
saling percaya, masing-masing percaya pada diri sendiri dan mengarahkan kepada
pencapaian tujuan yang tinggi. Jika seorang kepala sekolah menjalankan
tugas supervisinya secara baik maka melahirkan perubahan pada guru di sekolah. Adapun
biasanya perubahan itu pada kinerjanya disekolah, antara lain penguasaan guru
tentang media pembelajaran, metode, pendekatan, model, strategi dan teknik
pembelajaran.
Sebagaimana
Mangkunegara (2004:87) mendefinisikan “kinerja guru merupakan hasil kerja yang
secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya”. Sulistiyani dan Rosidah menyatakan “kinerja
seseorang merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha, dan kesempatan yang dapat dinilai
dari hasil kerjanya”. Bernandin dan Russell mengemukakan “kinerja merupakan suatu
hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang
dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan
kesungguhan, serta waktu”. Dengan demikian, kinerja guru merupakan hasil kerja
yang dicapai oleh guru dengan mempraktekkan suatu keahlian pada pendidikan dan
jenjang pendidikanya pada suatu periode tertentu, yang dihubungkan dengan suatu
ukuran nilai atau standar tertentu dari lembaga pendidikan di mana guru tersebut
bekerja.
5. Kerja sama dengan pengawas PAI
dalam supervisi klinis
Pelaksanaan
supervisi klinis yang dilakukan oleh kepala sekolah merupakan perpanjangan
tangan dari pengawas, sebab pengawas tidak rutin ke sekolah disebabkan kondisi
geografis sekolah tersebut cukup sulit untuk dijangkau. Memang kepala
sekolah memiliki fungsi dan peranan yang sangat penting bagi perbaikan
guru di sekolah selain pengawas PAI di
Kantor Kementerian Agama. Ini juga merupakan beban dan tanggug jawab yang harus
dipikul oleh seorang kepala sekolah tidak hanya berfungsi sebagai pimpinan
(manajer), edukator, innovator, dan motivator saja, akan tetapi ia juga
berfungsi sebagai supervisor. Adapun fungsinya sebagai supervisor pendidikan, kepala
sekolah harus pandai meneliti, mencari dan menentukan syarat-syarat mana
saja yang diperlukan bagi kemajuan sekolah sehingga tujuan-tujuan pendidikan di
sekolah semaksimal mungkin dapat tercapai. Dalam kaitannya dengan fungsi ini,
secara khusus kepala sekolah mempunyai fungsi sebagai supervisor pengajaran dan
supervisor klinis. Sebagaimana Feter F. Oliva menguraikan tugas kepala
sekolah sebagai supervisor klinis antara lain (1) membantu guru dalam mengembangkan
proses kegiatan belajar mengajar, (2) membantu guru dalam menerjemahkan dan
mengembangkan kurikulum dalam proses belajar mengajar, dan (membantu sekolah dalam
mengembangkan staf.
Berdasarkan pandangan di atas
dapat dipahami bahwa secara umum tugas kepala sekolah sebagai supervisor klinis
membantu guru dalam mencapai tujuan pendidikan, membimbing pengalaman mengajar guru,
memenuhi kebutuhan-kebutuhan belajar siswa, membina moral kerja, menyesuaikan
diri dengan masyarakat dan membina sekolah yang di pimpinnya.
B. Pemahaman
kepala sekolah tentang supervisi klinis dalam meningkatkan kinerja guru PAI SMP
Negeri 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton
1.
Masalah
yang terjadi dalam proses pembelajaran
Bertolak dari kompetensi guru yang
harus dimiliki oleh guru dan adanya keinginan kuat untuk menjadi seorang guru
yang baik, persoalan guru di sekolah terus menarik untuk dibicarakan,
didiskusikan, dan menuntut untuk dipecahkan. Dalam hal ini adalah masalah yang
berkaitan dengan ketrampilan mengajar guru, masalah tersebut secara langsung
akan berpengaruh terhadap proses belajar mengajar di kelas. Guru hidup
dalam situasi yang selalu berubah.
Selaras dengan Neagley dan Evans, yang dikutip oleh Mufidah
(2006:87) menyatakan
bahwa “tekanan psikologi bagi guru di sekolah kebanyakan berasal dari berbagai
problema yang muncul dari dirinya sendiri baik berupa kekurangan dan kelemahan,
misalnya ketidakmampuan mengelola pembelajaran di kelas secara baik, penguasaan
metodologi pembelajaran, rendah dalam penguasa-an materi, dan bukan
spesifikasi profesi”.
Ini jelas
bahwa pribadi guru
adalah keunikan
yang sukar diduga. Sering terjadi faktor guru sebagai manusia yaitu ketidakmampuan manusia
yang sebenarnya ia sadar bahwa sesuatu yang baik itu dapat ia kerjakan, tetapi
justru yang ia inginkan itu tidak ia kerjakan tetapi kelemahan yang tidak ia
inginkan itulah yang sering ia kerjakan. Semua guru mau memperbaiki profesi
mengajarnya, tetapi seolah-olah ia mengalami banyak problem pribadi (personal
problem) maupun problema jabatan (profesional problem). Memang tiap
guru mempunyai perbedaan pribadi. Walaupun semua unsur-unsur pokok dalam proses belajar
mengajar sudah diungkapkan dan guru-guru sudah memiliki pengetahuan dan
ketrampilan dalam usaha memperbaiki pengajaran, namun masih ada masalah-masalah
yang perlu dipelajari lebih dalam usaha meningkatkan mutu pelajaran. Masalah
tersebut seperti masalah dalam merumuskan tujuan, masalah dalam memilih metode
mengajar, masalah dalam menggunakan sumber belajar, masalah dalam membuat dan
menggunakan alat peraga, masalah dalam merencanakan program pengajaran dan
masalah dalam merencanakan dan melaksanakan evaluasi.
2. Limit waktu memberikan umpan balik setelah
melaksanakan supervisi klinis.
Perbaikan terhadap guru
dalam supervisi klinis hendaknya dilakukan pada saat serentak dan spontanitas.
Jika menunggu waktu lama untuk mengevaluasi guru PAI dikawatirkan akan lupa
bahkan tidak dilakukan sama sekali. Ini membuktikan bahwa keterlibatan kepala
sekolah dalam memperbaiki guru sangat dibutuhkan. Selain itu diharuskan
adanya kerjasama yang eksak antara keduanya sehingga pelaksanaan perbaikan
dapat berjalan dengan lancar. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kelemahan
bagi guru PAI merupakan sebuah masukan untuk perbaikan, dan seorang guru harus
rela dan ikhlas untuk terbuka menerima segala masukkan dari kepala
sekolah dalam rangka upaya perbaikan. Begitupun sebaliknya bahwa jika
dalam pelaksanaan supervisi klinis yang dilakukan oleh kepala sekolah menemukan
kelebihan pada guru harus dipertahankan, atau jika perlu ditingkatkan. Kerja
sama keduanya sangat dibutuhkan dalam proses pencapaian perbaikan, baik untuk
kepentingan guru sendiri maupun untuk peserta didik dalam hal ini memperbaiki
mutu pembelajaran.
3. Strategi pembelajaran yang digunakan guru PAI
Telah diketahui
bahwa guru PAI di SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton belum memahami dan
menampilkan secara utuh tentang berbagai strategi pembelajaran sehingga
mendorong Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton untuk terlibat
melakukan supervisi klinis dalam rangka memperbaiki guru PAI. Untuk meningkatkan kinerja guru PAI
dan mutu pembelajaran dilakukan kegiatan supervisi kepada guru yang dianggap
paling menentukan atau menjadi ujung tombak keberhasilan pendidikan. Strategi
pembelajaran yang digunakan oleh guru PAI di SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten
Buton harus mengandung penjelasan tentang metode atau prosedur dan teknik yang
digunakan selama proses pembelajaran berlangsung.
Sebagaimana
Bambang Rudianto (2003:43) menyatakan bahwa “guru paling tidak menguasai
berbagai strategi, pendekatan, dan metode pembelajaran di kelas sehingga
membawa pelajaran pada yang diinginkan”.
Metode, pendekatan, atau
prosedur dan teknik pembelajaran merupakan bagian dari strategi pembelajaran
yang wajib dikuasai oleh guru. Hubungan antara strategi, tujuan, dan metode
pembelajaran dapat digambarkan sebagai suatu kesatuan sistem yang bertitik
tolak dari penentuan tujuan pembelajaran, pemilihan strategi pembelajaran, dan
perumusan tujuan, yang selanjutnya diimplementasikan ke dalam berbagai metode
yang relevan selama proses pembelajaran berlangsung. Dalam melaksanakan metode
pembelajaran ada beberapa tahap, yang pertama adalah pendahuluan, pada kegiatan
pendahuluan guru diharapkan dapat menarik minat peserta didik atas materi
pelajaran yang akan disampaikan. Dengan menjelaskan tujuan pembelajaran khusus
yang diharapkan dapat dicapai oleh semua peserta didik di akhir kegiatan
pembelajaran dan melakukan apersepsi, berupa kegiatan yang merupakan jembatan
antara pengetahuan lama dengan pengetahuan baru yang akan dipelajari.
C. Upaya
yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru PAI di SMP Negeri 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton
1. Upaya-upaya
yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja guru PAI
Upaya
yang dilakukan oleh kepala sekolah memberikan semangat dan motivasi kepada guru PAI
untuk terus melakukan pembenahan diri dan perubahan yang baik untuk
meningkatkan kinerjanya. Upaya-upaya kepala sekolah dalam pelaksanaan
supervisi klinis ini diasumsikan akan meningkatkan mutu pengajaran, yang
berarti pula ada peningkatan mutu pendidikan. Supervisi klinis pada dasarnya
merupakan suatu bantuan yang diberikan kepada guru PAI menuju guru yang
professional, yakni dengan melakukan pembinaan kinerja guru PAI dalam mengelola
proses belajar mengajar. Pelaksanaan bimbingan pun dilakukan secara professional.
Mengingat peranan strategis guru PAI dalam setiap upaya peningkatan mutu,
relevansi, dan efisiensi pendidikan, maka peningkatan dan pengembangan aspek
kompetensi professional guru PAI merupakan kebutuhan. Benar bahwa mutu
pendidikan bukan hanya ditentukan oleh guru PAI semata, melainkan juga oleh
beberapa komponen pendidikan lainnya. Akan tetapi seberapa banyak pendidikan
dan pengajaran mengalami kemajuan dalam perkembangannya selama ini, banyak
bergantung kepada kepiawan guru PAI dalam menerapkan kompetensi standar yang
harus dimiliki termasuk kompetensi professional. Upaya meningkatkan kompetensi
professional guru, yaitu: (1) dalam melaksanakan pembinaan professional guru
PAI, kepala
sekolah bisa menyusun program
penyetaraan bagi guru PAI yang memiliki kualifikasi D III agar mengikuti
penyetaraan S1/Akta IV, sehingga mereka dapat menambah wawasan keilmuan dan
pengetahuan yang menunjang tugasnya. (2) untuk meningkatkan prefossional guru
PAI yang sifatnya khusus, bisa dilakukan kepala sekolah dengan mengikutsertakan
guru PAI melalui seminar dan pelatihan yang diadakan Diknas maupun di
Kementerian Agama Kabupaten Buton. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan
kinerja guru PAI dalam membenahi dan metodologi pembelajaran. (3) Peningkatan
prefessionalisme guru PAI melalui PKG (Pemantapan kerja guru). Melalui wadah
inilah para guruh diarahkan untuk mencari berbagai pengalaman mengenai
metodologi pembelajaran dan bahan ajar yang dapat diterapkan di dalam kelas.
(4) Meningkatkan kesejahteraan guru. Kesejahteraan guru tidak dapat diabaikan,
karena merupakan salah satu faktor penentu dalam peningkatan kinerja, yang
secara langsung terhadap mutu pendidikan.
2. Kendala
yang hadapi dalam melaksanakan supervisi klinis
Seringkali kita mendengar setiap
insan terkait dalam profesi pendidikan mengeluhkan masalah yang terjadi pada
dirinya terkait profesi yang di hadapinya. Masalah itu timbul akibat banyak
sebab yang saling terkait sehingga terhubung dan menjadi masalah yang bisa di
runtunkan karena banyaknya. Pemberian tugas mengajar di luar bidang
spesialisasi dan keahlian bagi seorang pendidik merupakan salah satu bentuk
dari sekian banyak masalah yang di hadapi bagi para pemegang profesi
pendidikan. Sebuah permasalahan yang simpel tapi dampaknya bila di dalami akan jauh
lebih dalam. Oleh karena itulah permasalahan yang akan saya angkat terkait
problematik dalam melaksanakan profesi pendidikan adalah pemberian tugas
mengajar di luar bidang spesialisasi dan keahlian. Apakah permasalahan yang
simpel itu nantinya akan menimbulkan dampak yang luas bagi dunia pendidikan?
Permasalahan seperti itu sering terjadi di berbagai sekolah dan instansi
pendidikan lainnya. Dan apakah solusi yang tepat untuk memecahkan masalah
tersebut. Timbulnya permasalahan dalam pemberian tugas mengajar di luar bidang
spesialisasi dan keahlian itu sebenarnya di sebabkan oleh kesalahan guru itu
sendiri atau justru malah para atasan-atasan yang memberikan tugas kepada guru
tersebut.
IMPLIKASI
PENELITIAN
Ada
beberapa implikasi dari temuan penelitian ini sebagai akibat langsung atau
konsekuensi atas temuan hasil penelitian yang penulis lakukan terkait dengan
kinerja guru PAI.
1.
Melahirkan semangat guru PAI dalam
menjalankan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawabnya. Dengan demikian
kinerjanya sebagai guru PAI meningkat.
2.
Terciptanya hubungan kerjasama antara guru
PAI dengan siswa secara individual.
3.
Melahirkan
semangat dalam perencanaan pembelajaran oleh guru PAI.
4.
Guru
PAI mampu mendayagunaan media pembelajaran.
5.
Melibatkan
siswa dalam berbagai pengalaman belajar.
6.
Melahirkan
kepemimpinan yang aktif dari guru PAI.
7.
Penelitian ini memberikan kontribusi
secara langsung terhadap kepala sekolah dalam melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya sebagai sepurvisor. Terutama berkaitan dengan supervisi klinis. Hasil
penelitian ini dapat memperkaya konsep atau teori yang menyokong perkembangan
pengetahuan tentang supervisi klinis di berbagai sekolah di Kabupaten Buton.
Selain itu dapat memberikan masukan yang berarti bagi Kepala Sekolah SMPN 2
dan 3 Wabula Kabupaten Buton dan guru PAI.
KESIMPULAN
1.
Kepala sekolah SMP Negeri 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton telah melakukan supervisi secara objektif dalam kegiatan mengajar.
2.
Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula
Kabupaten Buton cukup memahami pelaksanaan supervise klinis.
3.
Upaya yang dilakukan oleh Kepala
Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton memberikan semangat dan
motivasi kepada guru PAI untuk terus melakukan pembenahan diri dan perubahan
yang baik untuk meningkatkan kinerjanya.
SARAN-SARAN
1. Saran untuk Dinas Pendidikan dan
Kementerian Agama Kabupaten Buton
a.
Dalam upaya memecahkan
persoalan rendahnya kualitas pendidikan yang merata disetiap jenjang pendidikan
pada dewasa ini, maka peran Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama Kabupaten
Buton yang membawahi dan menangani urusan pendidikan Agama Islam hendaknya
dapat mempertimbangkan hal-hal prinsipil tentang kemajuan pendidikan di sekolah
tersebut.
b. Meningkatkan
kepedulian dan perhatian Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama Kabupaten Buton
terhadap kepala sekolah, terutama menyangkut hal-hal yang erat kaitannya dengan
pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin pada lembaga sekolah
yang dipimpinnya.
c.
Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama
Kabupaten Buton hendaknya melaksanakan program pembinaan yang terus menerus
disertai monotoring dan evaluasi program pembinaan kepada semua kepala sekolah,
khususnya kepala sekolah yang belum mampu menghasilkan output yang baik.
d. Dinas
Pendidikan dan Kementerian Agama Kabupaten Buton hendaknya mempersiapkan sebaik
mungkin calon-calon kepala sekolah yang akan dipromosikan menjadi kepala
sekolah, baik dari segi kepribadian, maupun dari segi pengetahuan tentang
tugas-tugas sebagai seorang pemimpin. Hal ini didasarkan pada pertimbangan
bahwa orang-orang yang dipersiapkan secara baik dan matang, baik segi
pengetahuan maupun segi keterampilannya dalam memimpin, diharapkan akan lebih
berhasil memimpin bila dibandingkan dengan orang-orang yang tidak dipersiapkan
sama sekali.
2. Saran untuk Kepala Sekolah
Kepala
sekolah karena statusnya sebagai manager yang bertanggung jawab atas
keberhasilan pendidikan pada sekolah yang dipimpinnya, maka hendaknya dapat
mempertimbngkan hal-hal sebagai berikut:
a. Hasil
penelitian ini mengungkapkan bahwa Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula
Kabupaten Buton telah melaksanakan supervisi klinis dengan baik terhadap guru
PAI di sekolahnya. Ini menunjukan bahwa kepala sekolah cukup professional di
bidangnya, namun proses tidak kalah pentingnya adalah proses PAI harus
diperhatikan secara seksama, sebab pembelajaran PAI merupakan garda terdepan
yang secara langsung berhadapan dengan moral, etika dan prilaku peserta didik.
b. Hendaknya
upaya-upaya menata dan meningkatkan lingkungan kerja sekolah menjadi lingkungan
kerja yang kondusif bagi guru-guru dalam bertugas terus dilakukan sertiap
waktu. Dengan demikian diharapkan sikap guru pada proses pembelajaran menjadi
lebih positif.
3. Saran untuk guru Pendidikan
Islam
a. Sebaiknya
guru Pendidikan Islam tidak terlalu bergantung pada kepala
sekolah untuk
memecahkan setiap masalah yang muncul dalam pembelajaran. Upaya sendiri lebih
berkesan terpuji dan mulia ketimbang mengharapkan kepada orang lain.
b. Dalam
kenyataannya, guru Pendidikan Islam masih banyak yang mengalami masalah dalam
menjalani profesinya dan guru tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Akibatnya ketika mutu proses dan hasil pendidikan rendah, guru selalu
melemparkan tanggungjawab kepada pihak lain, misalnya orang tua, lingkungan,
dan sebagainya dan hal ini akan berdampak pada kinerjanya sebagai guru
Pendidikan Islam.
c. Guru
Pendidikan Islam harus lebih banyak kreativitas diri melalui budaya baca,
mengasah dan mengolah pikir dengan banyak berdiskusi, bukan sekedar
bincang-bincang yang tidak bermakna.
d. Guru
Pendidikan Islam hendaknya memiliki karya inovatif dalam pengelolaan kelas.
DAFTAR PUSTKA
Asf,
Jasmani. 2013. Supervisi Pendidikan.
Jokjakarta : Ar-Ruzz Media.
Bakri Masykuri. Afifulloh.M. Dwi Ari. K, 2013, Pedoman Penulisan Tesis,
Malang: Program Pascasarjana Universitas Islam Malang
Mustofa
Syaiful. 2013. Supervisi Pendidikan.
Jokjakarta : Ar-Ruzz Media
Suprihartiningrum.
Jamil. 2013 Guru Profesional Pedoman Kinerja, Kualifikasi, & Kompetensi Guru. Jokjakarta : Ar-Ruzz-Media.
Mulyasa.
E. 2005. Menjadi Guru Profesional
Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung : PT Remaja Rosdakara.
Muhaimin,
H, 2021. Manajemen Pendidikan,
Aplikasinya dalam menyusun Rencana dan Pengembangan Sekolah. Malang : Kencana Prenada Media Group
Su’ah. Hj. 2012. Manajemen
Pendidikan, Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana dan Pengembangan Sekolah,
Malang : Kencana Prenada Media Group.
Powobowo,
Sugeng Listya. 2012. Manajemen Pendidikan, Aplikasinyadalam
Penyusunan Rencana dan Pengembangan Sekolah, Malang : Kencana Prenada Media
Group.
Purwanto,
M. Ngalim. 2008. Administrasi
dan supervisi Pendidikan. Bandung : PT
Remaja Rosdkarya.
Fathurrohman.
Pupuh. 2011: Supervisi Pendidikan,
Bandung : PT Refika Aditama.
Sryana.
Aa.. 2011. Supervisi
Pendidikan, Bandung : PT Refika Aditama.
Muin,
Abdul. 2010. Kepemimpinan
Pendidikan, Pemekasan : PT Remaja Rosdkarya.
Yamin,
H. Martinis, 2010. Standarisasi
Kinerja Guru, Jakarta : Gaung Persada
Maisah, 2010. Standarisasi Kinerja guru, Jakarta :
Gaung Persada (GP Press)
Makawimbang.
H. Jerry, 2013. Supervisi
Klinis, Teori dan Pengukurannya, Bandung : Alfabeta.
Quinn.
Pathon. 1980. Qualitatif Evalucation
Methods. Publication. Bavely Hils.
Siagian,
H. 1995. Majemen Suatu Pengantar.
Bandung. Alumni.
Riyanto,
Yatim. 2007. Metodologi Penelitian
Pendidikan Kualitatif. Surabaya:UNESA Universitas Press.
Mulyana,
E.2007.Manajemen Berbasis Sekolah.
Bandung:Rosda Karya Remaja
Huberman,
dan Miles. 1994. Kualitatif Data Analisis
diterjemahkan oleh Cecep Rohadi. Jakarta: UI Press.
Ashari,
A. 2004. Supervisi Rencana Program
Pembelajaran. Jakarta Ciputat Ryanputra.
Burton,
WH dan Lee. J. Backer, 1995. Supervision
New York. Appleton Century Carrf Inc.
Lipham
James, M. et.al.1985. ThepPrincpleship
Cencepts Competenceyan Cases. London. Longman Inc.
Sergiovanni,
T.J and Strrat, Robert J. 1987. Supervision,
Human Perspective dalam Effendi. 2001.
Malang. PPSJ Manajemen Pendidikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar