Senin, 29 Februari 2016

IMPLEMENTASI SUPERVISI KLINIS KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU PAI



IMPLEMENTASI SUPERVISI KLINIS KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU PAI DI SMPN 2 DAN 3 WABULA KABUPATEN BUTON
Oleh : Hairudin

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisa tentang: (1) Implementasi supervisi klinis kepala sekolah dalam  meningkatkan kinerja guru PAI di SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton. (2) Pemahaman kepala sekolah tentang supervisi klinis dalam meningkatkan kinerja guru PAI di SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton. (3) Upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru PAI di SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis dilakukan dengan collection data, reduction data, dan display data. Untuk menguji keabsahan data penulis menggunakan perpanjangan keikutsertaan di lapangan dan triangulasi metode. Hasil penelitian sebagai berikut: (1) Kepala sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton telah melakukan supervisi secara objektif dalam kegiatan mengajar (2) 2) Kepala sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton cukup memahami pelaksanaan supervisi klinis. (3) Upaya yang dilakukan oleh Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton memberikan semangat dan motivasi kepada guru PAI untuk terus melakukan pembenahan diri dan perubahan yang baik untuk meningkatkan kinerjanya. Implikasi dari penelitian ini memberikan kontribusi secara langsung terhadap Kepala Sekolah dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai sepurvisor. Terutama berkaitan dengan supervise klinis. Hasil penelitian ini dapat memperkaya konsep atau teori yang menyokong perkembangan pengetahuan tentang supervise klinis di berbagai sekolah di Kabupaten Buton.

Kata kunci: Supervisi Klinis, Kinerja Guru PAI.                                    

PENDAHULUAN



Hasil Uji Kompetensi Guru yang telah dilaksanakan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP) Kemendikbud Kabupaten Buton menunjukan kompetensi guru PAI masih rendah. Menurut Kepala BPSDMPK dan PMP Kemendikbud Kabupaten Buton, UKG merupakan ujian untuk mengukur kompetensi dasar tentang tentang bidang studi (subject matter) dan pedagogik dalam domain content guru. Hasilnya, sebanyak 42 guru PAI di Kabupaten Buton hanya memperoleh rata-rata nilai UKG sebesar 47. Kompetensi dasar bidang studi yang diujikan bagi seluruh guru itu, sesuai dengan bidang studi sertifikasi bagi guru yang sudah bersertifikat pendidik. Sedangkan bagi guru yang belum bersertifikat pendidik, disesuaikan dengan kualifikasi akademik guru.
Kondisi ril guru PAI di Kabupaten Buton sebagai berikut:
1.        Guru PAI di SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton tidak menekuni profesinya secara utuh. Hal ini disebabkan oleh guru bekerja di luar jam kerjanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sehingga waktu untuk membaca dan menulis untuk meningkatkan diri tidak ada;
2.        Belum adanya standar profesional guru PAI di SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton sebagaimana tuntutan di sekolah-sekolah maju;
3.        Kemungkinan disebabkan oleh adanya perguruan tinggi swasta sebagai pencetak guru PAI yang lulusannya asal jadi tanpa mempehitungkan outputnya kelak di lapangan sehingga menyebabkan banyak guru yang tidak patuh terhadap etika profesi keguruan;
4.        Masih belum berfungsi PGRI di Kabupaten Buton sebagai organisasi profesi yang berupaya secara makssimal meningkatkan profesionalisme anggotanya. Kecenderungan PGRI bersifat politis

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penulis adalah instrument utama dalam penelitian ini sehingga kehadiran penulis sebagai peneliti mutlak diperlukan. Informan kunci adalah kepala sekolah dan guru PAI di SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton. Sumber data primer yang diperoleh oleh peneliti adalah hasil wawancara dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru PAI, siswa dan komite sekolah. Sedangkan sumber data sekunder yang diperoleh langsung dari pihak-pihak yang berkaitan berupa data-data sekolah dan berbagai literatur yang relevan dengan pembahasan, seperti: wawancara dari masyarakat sekitarnya, arsip-arsip sekolah, dan lain-lain. Pengumpulan data dilakukan dengan dengan cara observasi; yakni penulis terlibat secara langsung selama mengobservasi pelaksanaan supervisi klinis terhadap guru PAI. Wawancara, digunakan oleh penulis dengan tujuan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan pelaksanaan supervisi klinis kepala sekolah. Dokumentasi, digunakan untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, notulen rapat, agenda dan sebagainya. Untuk menguji keabsahan data penulis menggunakan perpanjangan keikutsertaan di lapangan dan triangulasi metode.

HASIL PENELITIAN
A.   Implementasi supervisi klinis kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru PAI di SMP Negeri 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton.
1.     Pemahaman Kepala Sekolah tentang supervisi klinis
Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton memahami tentang supervisi klinis. Sebagai hubungan tatap muka antara supervisor dalam hal ini Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton dengan guru PAI yang berfokus pada tingkah laku yang sebenarnya dari guru PAI yang mengajar di kelas, maksudnya adalah tingkah laku yang sewajarnya, tidak dibuat buat.

2.     Pelaksanaan supervisi klinis
Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton melakukan supervisi klinis ketika diminta oleh guru PAI pada saat melakukan proses belajar mengajar. Dan pelaksanaan supervisi klinis satu kali dalam 1 (satu) semester dan dilakukan sendiri oleh Kepala Sekolah. Konsep supervisi klinis sebagai suatu teknik pendekatan dalam pembelajaran guru PAI merupakan suatu pola yang didasarkan pada asumsi dasar bahwa proses belajar guru PAI  untuk  berkembang dalam jabatannya tidak dapat dipisahkan dari proses belajar yang dilakukan guru PAI tersebut. Supervisi klinis sebagai suatu teknik memiliki langkah-langkah tertentu yang perlu mendapat perhatian untuk mengemba-ngkan profesionalitas guru PAI.

3.    Langkah-langkah supervisi klinis
Langkah-langkah supervisi klinis yang dilakukan oleh Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton mulai dari perencanaan awal. Pada tahap ini beberapa hal yang harus diperhatikan adalah: (a) menciptakan suasana yang intim dan terbuka, (b) mengkaji rencana pembelajaran yang meliputi tujuan, metode, waktu, media, evaluasi hasil belajar, dan lain-lain yang terkait dengan pembelajaran, (c) menentukan fokus obsevasi, (d) menentukan alat bantu (instrumen) observasi, dan (e) menentukan teknik pelaksanaan obeservasi. Tahap pelaksanaan observasi. Pada tahap ini beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain: (a) harus luwes, (b) tidak mengganggu proses pembelajaran, (c) tidak bersifat menilai, (d) mencatat dan merekam hal-hal yang terjadi dalam proses pembelajaran sesuai kesepakatan bersama, dan (e) menentukan teknik pelaksanaan observasi. Tahap akhir (diskusi balikan). Pada tahap ini beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain: (a) memberi penguatan; (b) mengulas kembali tujuan pembelajaran; (c) mengulas kembali hal-hal yang telah disepakati bersama, (d) mengkaji data hasil pengamatan, (e) tidak bersifat menyalahkan, (f) data hasil pengamatan tidak disebarluaskan, (g) penyimpulan, (h) hindari saran secara langsung, dan (i) merumuskan kembali kesepakatan-kesepakatan sebagai tindak lanjut proses perbaikan.
4.      Perubahan terhadap kinerja guru PAI setelah dilakukan supervisi klinis
Terjadi perubahan yang signifikan terhadap guru PAI setelah dilakukannnya supervisi klinis. Adapun perubahan-perubahan itu antara lain terciptanya kondisi atau iklim sekolah yang kondusif, cara mengajar guru PAI yang menyenangkan siswa, penguasaan guru PAI terhadap media pembelajaran, metode, strategi, pendekatan dan model pembelajaran PAI. Selain itu prestasi belajar siswa meningkat. 

5.      Kerja sama dengan pengawas PAI dalam supervisi klinis
Pelaksanaan supervisi klinis yang dilakukan oleh Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton merupakan perpanjangan tangan dari pengawas PAI di Kantor kementerian Agama kabupaten Buton, sebab pengawas PAI tidak rutin ke sekolah disebabkan kondisi geografis sekolah tersebut cukup sulit untuk dijangkau.

B.  Pemahaman kepala sekolah tentang supervisi klinis dalam meningkatkan kinerja guru PAI SMP Negeri 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton
1.    Masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran
Kondisi ril yang terjadi sebelum dilakukannnya supervisi klinis bahwa guru PAI tidak memiliki perangkat pembelajaran yang lengkap sehingga mendorong bagi Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton untuk melakukan supervisi klinis. Selain itu berkurangnya motivasi para peserta didik untuk belajar atau berpartisipasi di dalam belajar;  semakin banyak siswa yang membolos pada saat jam pelajaran di mulai; sering terjadi perkelahian antara siswa baik dari sesama sekolah maupun dengan siswa di sekolah lain atau masyarakat;  prestasi siswa yang semakin rendah dan mengalami kemerosotan nilai; semakin menipisnya etika dan kesopanan di dalam belajar. Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton memberikan motivasi dan dorongan kepada guru PAI agar menjalankan tugas dengan baik dan maksimal sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Berdasarkan hal itu maka dalam upaya peningkatan kinerja guru PAI harus memperhatikan performansi guru berkaitan dengan pembelajarannya yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. Salah satunya adalah melalui kegiatan supervisi klinis. Supervisi klinis dilakukan untuk meningkatkan kemampuan guru PAI dalam pembelajaran secara umum baik di kelas maupun di luar kelas.
2.      Limit waktu memberikan umpan balik setelah melaksanakan supervisi klinis
Pelaksanaan umpan balik dilakukaan pada saat supervisi berlangsung dan kesalahan guru dapat diberitau pada saat itu tanpa menunggu waktu yang lama. Ini ada kaitan erat dengan persepsi guru PAI tentang supervisi klinis Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton sebagai bahan penilaian kepala sekolah dalam melakukan supervisi klinis. Melalui persepsi guru PAI dapat diketahui kekurangan dan kelebihan pelaksanaan supervisi klinis Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton.

3.   Strategi pembelajaran yang digunakan guru PAI
Guru PAI di SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton belum memahami dan menampilkan secara utuh tentang berbagai strategi pembelajaran sehingga mendorong Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton untuk terlibat melakukan supervisi klinis dalam rangka memperbaiki guru PAI. Untuk meningkatkan kinerja guru PAI dan mutu pembelajaran dilakukan kegiatan supervisi kepada guru yang dianggap paling menentukan atau menjadi ujung tombak keberhasilan pendidikan. Tetapi dalam kenyataan seperti dinyatakan oleh Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton bahwa selama ini pelaksanaan supervisi klinis masih kurang mendukung usaha pembaharuan dan peningkatan kinerja guru PAI dan mutu pembelajaran yang disebabkan banyaknya permasalahan. Salah satu bentuk supervisi pendidikan adalah supervisi pengajaran yang dapat dilakukan dengan pendekatan klinikal untuk meningkatkan mutu/ profesionalitas guru.
C.   Upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton
1.     Upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja guru PAI
Upaya yang dilakukan oleh Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton memberikan semangat dan motivasi kepada guru PAI untuk terus melakukan pembenahan diri dan perubahan yang baik untuk meningkatkan kinerjanya. Upaya-upaya Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton dalam pelaksanaan supervisi klinis ini diasumsikan akan meningkatkan mutu pengajaran, yang berarti pula ada peningkatan mutu pendidikan. Supervisi klinis pada dasarnya merupakan suatu bantuan yang diberikan kepada guru PAI menuju guru yang professional, yakni dengan melakukan pembinaan kinerja guru PAI dalam mengelola proses belajar mengajar. Pelaksanaan bimbingan pun dilakukan secara professional.

2.    Kendala yang hadapi dalam melaksanakan supervisi klinis 
Guru yang mengajar PAI di SMPN 3 Wabula Kabupaten Buton tidak memiliki disiplin ilmu sesuai profesi yang ditekuni. Hal ini banyak menimbulkan persoalan internal yang dihadapi oleh SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton. Guru mengalami kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran pada mata pelajaran yang diampunya. Kesulitan tersebut dapat disebabkan oleh karakteristik mata pelajaran sehingga sulit dipahami atau kesulitan dalam aspek-aspek teknis metodologis sehingga bahan ajar kurang dipahami peserta didik. Dalam mengembangkan profesi guru PAI memerlukan batuan yang kalau dikaitkan dengan pengembangan profesi sebagai guru yang betul-betul professional dalam bidangnya.

PEMBAHASAN
A.  Implementasi supervisi klinis kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru PAI di SMP Negeri 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton
1.    Pemahaman Kepala Sekolah tentang supervisi klinis
Pendekatan klinis dalam supervisi pembelajaran merupakan konvergensi antara pendekatan ilmiah dan pendekatan artistik, yaitu supervisi dilakukan secara kolegial oleh supervisor dengan guru, sehingga kemampuan mengajar guru dapat ditingkatkan. Supervisi pembelajaran dengan pendekatan klinis ini dilakukan melalui pertemuan tatap muka antara supervisor dengan guru, membahas tentang mengajar di dalam kelas guna perbaikan pembelajaran dan pengembangan profesi. Konsep supervisi klinis dalam Islam dapat menggunakan konsep seperti apa yang disampaikan dalam Al Qur’an, Surat Al-Mujaadilah: 11 mengenai sopan santun dalam menghadiri majelis Nabi.
Memaknai ayat tersebut dalam supervisi klinis, yaitu bahwa kepala sekolah selaku supervisor tetap harus menjaga etika dan ketenangan guru PAI dan murid yang sedang dalam menjalankan proses belajar mengajar. Supervisi klinis merupakan aktifitas langsung mengamati praktik belajar mengajar guru PAI di dalam kelas, oleh karena itu, kegiatan supervisi klinis jangan sampai menganggu aktifitas  belajar mengajar. Artinya, jangan sampai Kepala Sekolah sebagai supervisor menjalankan tugasnya namun di sisi lain hak murid untuk memperoleh ilmu, terganggu karena kehadiran supervisor  di kelas. Dalam konteks  pendidikan, supervise pendidikan dapat didefenisi-kan sebagai aktifitas supervisor  yang dilakukan untuk mengawasi apakah guru telah merancang dan menjalankan desain instruksional dengan benar dalam praktik mengajar di kelas. Setelah mengamati seluruh proses yang dilakukan oleh guru dalam mengajar, selanjutnya supervisor  memberikan kritik objektif dengan tujuan memperbaiki yang sudah dilakukan guru di kelas. Dalam dunia pendidikan, supervisi klinis dilakukan bukan untuk menghakimi guru melakukan kesalahan dalam praktik mengajar. Tetapi lebih kepada  pembinaan yang mengarah pada penngkatan profesionalisme, bahkan seharusnya berdampak pada promosi karir guru, ketika guru benar-benar telah menjalankan tugas dengan baik Supervisi klinis dilakukan untuk mencapai keterampilan guru dalam mata  pelajarannya. Olehkarena itu Kepala Sekolah sebagai supervisor harus memiliki konsep, dan keterampilan dalam melakukan supervisi klinis. Tugas Kepala Sekolah sebagai supervisor tidak hanya mensupervisi untuk merefleksikan praktek dan mengembangkan pemahaman, dan cara baru dalam kerja sebagai guru, tetapi supervisor juga mengajar dalam sebuah formal sense. Melalui supervisi klinis Kepala Sekolah dapat dikembangkan keahlian-keahlian baru dan strategi-strategi yang direplikasi sesuai kebutuhan. Hasil dari kerja Kepala Sekolah sebagai supervisor klinis ini akan berdampak pada motivasi murid dalam belajar sehingga tercipta atmosfir yang menarik dalam pembelajaran. Selain untuk memperbaiki desain instruksional, supervisi klinis juga memberi kesempatan para guru PAI dalam promosi karirnya, karena dianggap telah menjalankan kewajibannya dengan bertanggung jawab. Dengan adanya promosi ini guru kemudian akan memotivasi diri sendiri untuk memperoleh pengembangan diri.
2.  Pelaksanaan supervisi klinis
Sebenarnya pelaksanaan supervisi itu tidak saja atas permintaan guru, tetapi merupakan tugas dan tanggung jawab kepala sekolah. Sebab kepala sekolah adalah seorang pemimpin yang memonitoring pekerjaan guru yang  berada dalam pengawasannya. Setelah mengamati praktik profesional guru, selanjutnya kepala sekolah selaku supervisor berkewajiban menganalisis dan mengevaluasi dari apa yang telah langsung dilihatnya di lapangan. Supervise klinis harus difokuskan pada peningkatan mengajar guru melalui siklus yang sistematis antara lain planning, eksen malalui pengamatan, dan evaluasi. Sebagaimana Richard Weller yang dikutip oleh Acheson dan Gall (2011:98) “supervisi klinis difokuskan pada peningkatan mengajar dengan melalui sarana siklus yang sistematis dalam perencanaan, pengamatan, serta analisis yang intelektual dan intensif mengenai penampilan mengajar yang nyata di dalam mengadakan perubahan dengan cara yang rasional”. Jadi jika dikaji berdasarkan istilah dalam “klinis”, mengandung makna: (1) pengobatan (klinis) dan (2) siklus, yaitu serangkaian kegiatan yang merupakan daur ulang. Oleh karena itu makna yang terkandung dalam istilah klinis merujuk pada unsur-unsur khusus, sebagai berikut: (a)  Adanya hubungan tatap muka antara pengawas dan guru di dalam proses  supervisi. (b)  Terfokus pada tingkah laku yang sebenarnya di dalam kelas. (c) Adanya observasi secara cermat. (d)  Deskripsi pada observasi secara rinci. (e)  Supervisor dan guru bersama-sama menilai penampilan guru. (g) Fokus observasi sesuai dengan permintaan kebutuhan guru.
3.    Langkah-langkah supervisi klinis
Langkah-langkah supervisi klinis mulai dari perencanaan awal, pelaksanaan maupun evaluasi. Langkah-langkah yang harus dikuasai oleh kepala sekolah selaku supervisor klinis adalah:
a)    Melakukan pertemuan awal.  Adapun aktivitas pada pertemuan awal adalah sebagai berikut: (1) Supervisor membentuk report kepada guru; (2) Supervisor bersama-sama dengan guru PAI membicarakan rencana  pembela-jaran telah dibuat oleh guru; (3) Supervisor bersama-sama dengan guru mengenali  jenis-jenis keterampilan mengajar; (4) Supervisor bersama-sama dengan guru mengembangkan intrumen yang akan dipakai sebagai penduann untuk mengobservasi keterampilan mengajar guru.
b)   Melakukan observasi mengajar. Aktivitas-aktivitas dalam melakukan observasi, meliputi hal-hal sebagai berikut : (a) Memasuki rungan kelas yang akan diajarkan oleh guru bersama-sama dengan guru; (b) Guru menjelaskan kepada siswa tetang maksud kedatanga supervisor ke ruang kelas; (c) Guru mempersilakan kepada supervisor menempati tempat yang telah disediakan; (d) Supervisor mengobservasi penampilan mengajar guru dengan menggunakan format observasi yang telah disepakati; (e) Setelah proses belajar mengajar selesai, guru bersama-sama supervisor meninggalkan ruangan kelas dan berpindah kerungan khusus untuk melaksanakan aktivitas supervisi.
c)    Mengadakan pertemuan balikan. Di antara langkah-langkah dalam kegiatan pertemuan balikan, yaitu sebagai berikut : (a) Supervisor memberikan penguatan kepada guru; (b) Supervisor bersama-sama dengan guru membicarakan kembali kontrak yang pernah dilakukan; (c) Supervisor menunjukkan hasil observasi yang ia lakukan berdasarkan format atau intstrumen observasi yang pernah disepakati; (d) Supervisor menanyakan kepada guru bagaimana  perasaannya dengan hasil observasi tersebut; (e) Supervisor bersama-sama dengan guru menyimpulkan hasil pencapaian latihan pembelajaran yang telah dilakukan.
Sebagaimana Kimball Wiles (1995) dalam Arikunto (2004:11) berpendapat bahwa “pelaksanaan supervisi klinis berlangsung dalam suatu siklus yang terdiri dari tiga tahap yaitu (1) Tahap perencanaan awal, (2) Tahap pelaksanaan observasi, (3) Tahap akhir (diskusi balikan)”.

4.    Perubahan terhadap kinerja guru PAI setelah dilakukan supervisi klinis
Jika merujuk pada tujuan kegiatan supervisi adalah menciptakan atau menjaga kondisi atau iklim sekolah supaya berada dalam situasi yang kondusif untuk terjadinya pengembangan pengajaran. Kegiatan supervisi  dapat berlangsung secara efektif apabila suasana lingkungan sekolah dalam keadaan tenang, tidak mencekam. Suasana yang tidak mencekam bagi pengembangan pembelajaran adalah suasana di mana setiap personal yang terlibat di dalam kegiatan pengajaran (guru, kepala sekolah, murid dan pegawai tata usaha) hatinya tentram, pasrah, dapat saling berhubungan satu sama lain dalam suasana kekeluargaan dengan bebas tanpa ada rasa takut. Masih tambah lagi satu syarat, yaitu bahwa setiap personal yang terlibat dalam pengembangan tersebut berada dalam posisi terpenuhinya kebutuhan pribadinya. System manajemen di dalam organisasi sosial seperti yang digambarkan tersebut bersifat partisipatif, dan ditandai oleh kepemimpinan yang mendukung, motivasi yang tinggi, hubungan antar pribadi sangat dekat, kerja sama yang baik, ada kesetiaan kelompok, tanggung jawab atas tugas masing-masing, saling percaya, masing-masing percaya pada diri sendiri dan mengarahkan kepada  pencapaian tujuan yang tinggi. Jika seorang kepala sekolah menjalankan tugas supervisinya secara baik maka melahirkan perubahan pada guru di sekolah. Adapun biasanya perubahan itu pada kinerjanya disekolah, antara lain penguasaan guru tentang media pembelajaran, metode, pendekatan, model, strategi dan teknik pembelajaran.
Sebagaimana Mangkunegara (2004:87) mendefinisikan “kinerja guru merupakan hasil kerja yang secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya”.  Sulistiyani dan Rosidah menyatakan “kinerja seseorang merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha, dan kesempatan yang dapat dinilai dari hasil kerjanya”. Bernandin dan Russell mengemukakan “kinerja merupakan suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan, serta waktu”. Dengan demikian, kinerja guru merupakan hasil kerja yang dicapai oleh guru dengan mempraktekkan suatu keahlian pada pendidikan dan jenjang pendidikanya pada suatu periode tertentu, yang dihubungkan dengan suatu ukuran nilai atau standar tertentu dari lembaga pendidikan di mana guru tersebut bekerja.
5.    Kerja sama dengan pengawas PAI dalam supervisi klinis
Pelaksanaan supervisi klinis yang dilakukan oleh kepala sekolah merupakan perpanjangan tangan dari pengawas, sebab pengawas tidak rutin ke sekolah disebabkan kondisi geografis sekolah tersebut cukup sulit untuk dijangkau. Memang kepala sekolah memiliki fungsi dan peranan yang sangat penting bagi perbaikan guru di sekolah  selain pengawas PAI di Kantor Kementerian Agama. Ini juga merupakan beban dan tanggug jawab yang harus dipikul oleh seorang kepala sekolah tidak hanya berfungsi sebagai pimpinan (manajer), edukator, innovator, dan motivator saja, akan tetapi ia juga berfungsi sebagai supervisor. Adapun fungsinya sebagai supervisor pendidikan, kepala sekolah harus pandai meneliti, mencari dan menentukan syarat-syarat mana saja yang diperlukan bagi kemajuan sekolah sehingga tujuan-tujuan pendidikan di sekolah semaksimal mungkin dapat tercapai. Dalam kaitannya dengan fungsi ini, secara khusus kepala sekolah mempunyai fungsi sebagai supervisor pengajaran dan supervisor klinis. Sebagaimana Feter F. Oliva menguraikan tugas kepala sekolah sebagai supervisor klinis antara lain (1) membantu guru dalam mengembangkan proses kegiatan belajar mengajar, (2) membantu guru dalam menerjemahkan dan mengembangkan kurikulum dalam proses belajar mengajar, dan (membantu sekolah dalam mengembangkan staf.
Berdasarkan pandangan di atas dapat dipahami bahwa secara umum tugas kepala sekolah sebagai supervisor klinis membantu guru dalam mencapai tujuan pendidikan, membimbing pengalaman mengajar guru, memenuhi kebutuhan-kebutuhan belajar siswa, membina moral kerja, menyesuaikan diri dengan masyarakat dan membina sekolah yang di pimpinnya.

B.  Pemahaman kepala sekolah tentang supervisi klinis dalam meningkatkan kinerja guru PAI SMP Negeri 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton
1.    Masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran
Bertolak dari kompetensi guru yang harus dimiliki oleh guru dan adanya keinginan kuat untuk menjadi seorang guru yang baik, persoalan guru di sekolah terus menarik untuk dibicarakan, didiskusikan, dan menuntut untuk dipecahkan. Dalam hal ini adalah masalah yang berkaitan dengan ketrampilan mengajar guru, masalah tersebut secara langsung akan berpengaruh terhadap proses belajar mengajar di kelas. Guru hidup dalam situasi yang selalu berubah.
Selaras dengan Neagley dan Evans, yang dikutip oleh Mufidah (2006:87) menyatakan bahwa “tekanan psikologi bagi guru di sekolah kebanyakan berasal dari berbagai problema yang muncul dari dirinya sendiri baik berupa kekurangan dan kelemahan, misalnya ketidakmampuan mengelola pembelajaran di kelas secara baik, penguasaan metodologi pembelajaran, rendah dalam penguasa-an materi, dan bukan spesifikasi profesi”.
Ini jelas bahwa pribadi guru adalah keunikan yang sukar diduga. Sering terjadi faktor guru sebagai manusia yaitu ketidakmampuan manusia yang sebenarnya ia sadar bahwa sesuatu yang baik itu dapat ia kerjakan, tetapi justru yang ia inginkan itu tidak ia kerjakan tetapi kelemahan yang tidak ia inginkan itulah yang sering ia kerjakan. Semua guru mau memperbaiki profesi mengajarnya, tetapi seolah-olah ia mengalami banyak problem pribadi (personal problem) maupun problema jabatan (profesional problem). Memang tiap guru mempunyai perbedaan pribadi. Walaupun semua unsur-unsur pokok dalam proses belajar mengajar sudah diungkapkan dan guru-guru sudah memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam usaha memperbaiki pengajaran, namun masih ada masalah-masalah yang perlu dipelajari lebih dalam usaha meningkatkan mutu pelajaran. Masalah tersebut seperti masalah dalam merumuskan tujuan, masalah dalam memilih metode mengajar, masalah dalam menggunakan sumber belajar, masalah dalam membuat dan menggunakan alat peraga, masalah dalam merencanakan program pengajaran dan masalah dalam merencanakan dan melaksanakan evaluasi.

2.    Limit waktu memberikan umpan balik setelah melaksanakan supervisi klinis.
Perbaikan terhadap guru dalam supervisi klinis hendaknya dilakukan pada saat serentak dan spontanitas. Jika menunggu waktu lama untuk mengevaluasi guru PAI dikawatirkan akan lupa bahkan tidak dilakukan sama sekali. Ini membuktikan bahwa keterlibatan kepala sekolah dalam memperbaiki guru sangat dibutuhkan. Selain itu diharuskan adanya kerjasama yang eksak antara keduanya sehingga pelaksanaan perbaikan dapat berjalan dengan lancar. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kelemahan bagi guru PAI merupakan sebuah masukan untuk perbaikan, dan seorang guru harus rela dan ikhlas untuk terbuka menerima segala masukkan dari kepala sekolah dalam rangka upaya perbaikan. Begitupun sebaliknya bahwa jika dalam pelaksanaan supervisi klinis yang dilakukan oleh kepala sekolah menemukan kelebihan pada guru harus dipertahankan, atau jika perlu ditingkatkan. Kerja sama keduanya sangat dibutuhkan dalam proses pencapaian perbaikan, baik untuk kepentingan guru sendiri maupun untuk peserta didik dalam hal ini memperbaiki mutu pembelajaran.
3.    Strategi pembelajaran yang digunakan guru PAI
Telah diketahui bahwa guru PAI di SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton belum memahami dan menampilkan secara utuh tentang berbagai strategi pembelajaran sehingga mendorong Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton untuk terlibat melakukan supervisi klinis dalam rangka memperbaiki guru PAI. Untuk meningkatkan kinerja guru PAI dan mutu pembelajaran dilakukan kegiatan supervisi kepada guru yang dianggap paling menentukan atau menjadi ujung tombak keberhasilan pendidikan. Strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru PAI di SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton harus mengandung penjelasan tentang metode atau prosedur dan teknik yang digunakan selama proses pembelajaran berlangsung.
Sebagaimana Bambang Rudianto (2003:43) menyatakan bahwa “guru paling tidak menguasai berbagai strategi, pendekatan, dan metode pembelajaran di kelas sehingga membawa pelajaran pada yang diinginkan”. 
Metode, pendekatan, atau prosedur dan teknik pembelajaran merupakan bagian dari strategi pembelajaran yang wajib dikuasai oleh guru. Hubungan antara strategi, tujuan, dan metode pembelajaran dapat digambarkan sebagai suatu kesatuan sistem yang bertitik tolak dari penentuan tujuan pembelajaran, pemilihan strategi pembelajaran, dan perumusan tujuan, yang selanjutnya diimplementasikan ke dalam berbagai metode yang relevan selama proses pembelajaran berlangsung. Dalam melaksanakan metode pembelajaran ada beberapa tahap, yang pertama adalah pendahuluan, pada kegiatan pendahuluan guru diharapkan dapat menarik minat peserta didik atas materi pelajaran yang akan disampaikan. Dengan menjelaskan tujuan pembelajaran khusus yang diharapkan dapat dicapai oleh semua peserta didik di akhir kegiatan pembelajaran dan melakukan apersepsi, berupa kegiatan yang merupakan jembatan antara pengetahuan lama dengan pengetahuan baru yang akan dipelajari.
C.  Upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru PAI di SMP Negeri 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton
1.   Upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja guru PAI
Upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah memberikan semangat dan motivasi kepada guru PAI untuk terus melakukan pembenahan diri dan perubahan yang baik untuk meningkatkan kinerjanya. Upaya-upaya kepala sekolah dalam pelaksanaan supervisi klinis ini diasumsikan akan meningkatkan mutu pengajaran, yang berarti pula ada peningkatan mutu pendidikan. Supervisi klinis pada dasarnya merupakan suatu bantuan yang diberikan kepada guru PAI menuju guru yang professional, yakni dengan melakukan pembinaan kinerja guru PAI dalam mengelola proses belajar mengajar. Pelaksanaan bimbingan pun dilakukan secara professional. Mengingat peranan strategis guru PAI dalam setiap upaya peningkatan mutu, relevansi, dan efisiensi pendidikan, maka peningkatan dan pengembangan aspek kompetensi professional guru PAI merupakan kebutuhan. Benar bahwa mutu pendidikan bukan hanya ditentukan oleh guru PAI semata, melainkan juga oleh beberapa komponen pendidikan lainnya. Akan tetapi seberapa banyak pendidikan dan pengajaran mengalami kemajuan dalam perkembangannya selama ini, banyak bergantung kepada kepiawan guru PAI dalam menerapkan kompetensi standar yang harus dimiliki termasuk kompetensi professional. Upaya meningkatkan kompetensi professional guru, yaitu: (1) dalam melaksanakan pembinaan professional guru PAI, kepala sekolah bisa menyusun program penyetaraan bagi guru PAI yang memiliki kualifikasi D III agar mengikuti penyetaraan S1/Akta IV, sehingga mereka dapat menambah wawasan keilmuan dan pengetahuan yang menunjang tugasnya. (2) untuk meningkatkan prefossional guru PAI yang sifatnya khusus, bisa dilakukan kepala sekolah dengan mengikutsertakan guru PAI melalui seminar dan pelatihan yang diadakan Diknas maupun di Kementerian Agama Kabupaten Buton. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kinerja guru PAI dalam membenahi dan metodologi pembelajaran. (3) Peningkatan prefessionalisme guru PAI melalui PKG (Pemantapan kerja guru). Melalui wadah inilah para guruh diarahkan untuk mencari berbagai pengalaman mengenai metodologi pembelajaran dan bahan ajar yang dapat diterapkan di dalam kelas. (4) Meningkatkan kesejahteraan guru. Kesejahteraan guru tidak dapat diabaikan, karena merupakan salah satu faktor penentu dalam peningkatan kinerja, yang secara langsung terhadap mutu pendidikan. 

2.      Kendala yang hadapi dalam melaksanakan supervisi klinis 
Seringkali kita mendengar setiap insan terkait dalam profesi pendidikan mengeluhkan masalah yang terjadi pada dirinya terkait profesi yang di hadapinya. Masalah itu timbul akibat banyak sebab yang saling terkait sehingga terhubung dan menjadi masalah yang bisa di runtunkan karena banyaknya. Pemberian tugas mengajar di luar bidang spesialisasi dan keahlian bagi seorang pendidik merupakan salah satu bentuk dari sekian banyak masalah yang di hadapi bagi para pemegang profesi pendidikan. Sebuah permasalahan yang simpel tapi dampaknya bila di dalami akan jauh lebih dalam. Oleh karena itulah permasalahan yang akan saya angkat terkait problematik dalam melaksanakan profesi pendidikan adalah pemberian tugas mengajar di luar bidang spesialisasi dan keahlian. Apakah permasalahan yang simpel itu nantinya akan menimbulkan dampak yang luas bagi dunia pendidikan? Permasalahan seperti itu sering terjadi di berbagai sekolah dan instansi pendidikan lainnya. Dan apakah solusi yang tepat untuk memecahkan masalah tersebut. Timbulnya permasalahan dalam pemberian tugas mengajar di luar bidang spesialisasi dan keahlian itu sebenarnya di sebabkan oleh kesalahan guru itu sendiri atau justru malah para atasan-atasan yang memberikan tugas kepada guru tersebut.
IMPLIKASI PENELITIAN
Ada beberapa implikasi dari temuan penelitian ini sebagai akibat langsung atau konsekuensi atas temuan hasil penelitian yang penulis lakukan terkait dengan kinerja guru PAI.
1.        Melahirkan semangat guru PAI dalam menjalankan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawabnya. Dengan demikian kinerjanya sebagai guru PAI meningkat.
2.        Terciptanya hubungan kerjasama antara guru PAI dengan siswa secara individual.
3.        Melahirkan semangat dalam perencanaan pembelajaran oleh guru PAI.
4.        Guru PAI mampu mendayagunaan media pembelajaran.
5.        Melibatkan siswa dalam berbagai pengalaman belajar.
6.        Melahirkan kepemimpinan yang aktif dari guru PAI.
7.        Penelitian ini memberikan kontribusi secara langsung terhadap kepala sekolah dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai sepurvisor. Terutama berkaitan dengan supervisi klinis. Hasil penelitian ini dapat memperkaya konsep atau teori yang menyokong perkembangan pengetahuan tentang supervisi klinis di berbagai sekolah di Kabupaten Buton. Selain itu dapat memberikan masukan yang berarti bagi Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton dan guru PAI.

KESIMPULAN
1.     Kepala sekolah SMP Negeri 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton telah melakukan supervisi secara objektif dalam kegiatan mengajar.
2.     Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton cukup memahami pelaksanaan supervise klinis.
3.     Upaya yang dilakukan oleh Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton memberikan semangat dan motivasi kepada guru PAI untuk terus melakukan pembenahan diri dan perubahan yang baik untuk meningkatkan kinerjanya.

SARAN-SARAN
1. Saran untuk Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama Kabupaten Buton
a.        Dalam upaya memecahkan persoalan rendahnya kualitas pendidikan yang merata disetiap jenjang pendidikan pada dewasa ini, maka peran Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama Kabupaten Buton yang membawahi dan menangani urusan pendidikan Agama Islam hendaknya dapat mempertimbangkan hal-hal prinsipil tentang kemajuan pendidikan di sekolah tersebut.
b.       Meningkatkan kepedulian dan perhatian Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama Kabupaten Buton terhadap kepala sekolah, terutama menyangkut hal-hal yang erat kaitannya dengan pelaksanaan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin pada lembaga sekolah yang dipimpinnya.
c.        Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama Kabupaten Buton hendaknya melaksanakan program pembinaan yang terus menerus disertai monotoring dan evaluasi program pembinaan kepada semua kepala sekolah, khususnya kepala sekolah yang belum mampu menghasilkan output yang baik.
d.       Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama Kabupaten Buton hendaknya mempersiapkan sebaik mungkin calon-calon kepala sekolah yang akan dipromosikan menjadi kepala sekolah, baik dari segi kepribadian, maupun dari segi pengetahuan tentang tugas-tugas sebagai seorang pemimpin. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa orang-orang yang dipersiapkan secara baik dan matang, baik segi pengetahuan maupun segi keterampilannya dalam memimpin, diharapkan akan lebih berhasil memimpin bila dibandingkan dengan orang-orang yang tidak dipersiapkan sama sekali.
2. Saran untuk Kepala Sekolah
Kepala sekolah karena statusnya sebagai manager yang bertanggung jawab atas keberhasilan pendidikan pada sekolah yang dipimpinnya, maka hendaknya dapat mempertimbngkan hal-hal sebagai berikut:
a.       Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Kepala Sekolah SMPN 2 dan 3 Wabula Kabupaten Buton telah melaksanakan supervisi klinis dengan baik terhadap guru PAI di sekolahnya. Ini menunjukan bahwa kepala sekolah cukup professional di bidangnya, namun proses tidak kalah pentingnya adalah proses PAI harus diperhatikan secara seksama, sebab pembelajaran PAI merupakan garda terdepan yang secara langsung berhadapan dengan moral, etika dan prilaku peserta didik.
b.      Hendaknya upaya-upaya menata dan meningkatkan lingkungan kerja sekolah menjadi lingkungan kerja yang kondusif bagi guru-guru dalam bertugas terus dilakukan sertiap waktu. Dengan demikian diharapkan sikap guru pada proses pembelajaran menjadi lebih positif.
3. Saran untuk guru Pendidikan Islam
a.       Sebaiknya guru Pendidikan Islam tidak terlalu bergantung pada kepala sekolah untuk memecahkan setiap masalah yang muncul dalam pembelajaran. Upaya sendiri lebih berkesan terpuji dan mulia ketimbang mengharapkan kepada orang lain.
b.      Dalam kenyataannya, guru Pendidikan Islam masih banyak yang mengalami masalah dalam menjalani profesinya dan guru tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Akibatnya ketika mutu proses dan hasil pendidikan rendah, guru selalu melemparkan tanggungjawab kepada pihak lain, misalnya orang tua, lingkungan, dan sebagainya dan hal ini akan berdampak pada kinerjanya sebagai guru Pendidikan Islam. 
c.       Guru Pendidikan Islam harus lebih banyak kreativitas diri melalui budaya baca, mengasah dan mengolah pikir dengan banyak berdiskusi, bukan sekedar bincang-bincang yang tidak bermakna.
d.      Guru Pendidikan Islam hendaknya memiliki karya inovatif dalam pengelolaan kelas.

DAFTAR PUSTKA

Asf, Jasmani. 2013. Supervisi Pendidikan. Jokjakarta : Ar-Ruzz Media.

Bakri Masykuri. Afifulloh.M. Dwi Ari. K, 2013, Pedoman Penulisan  Tesis, Malang: Program Pascasarjana Universitas Islam Malang

Mustofa Syaiful. 2013. Supervisi Pendidikan. Jokjakarta : Ar-Ruzz Media

Suprihartiningrum. Jamil. 2013  Guru Profesional Pedoman Kinerja, Kualifikasi, & Kompetensi Guru.  Jokjakarta : Ar-Ruzz-Media.

Mulyasa. E. 2005. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan.  Bandung : PT Remaja Rosdakara.

Muhaimin, H, 2021. Manajemen Pendidikan, Aplikasinya dalam menyusun Rencana dan Pengembangan Sekolah.  Malang : Kencana Prenada Media Group

Su’ah. Hj.  2012. Manajemen Pendidikan, Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana dan Pengembangan Sekolah, Malang : Kencana Prenada Media Group.

Powobowo, Sugeng Listya.  2012. Manajemen Pendidikan, Aplikasinyadalam Penyusunan Rencana dan Pengembangan Sekolah, Malang : Kencana Prenada Media Group.

Purwanto, M. Ngalim.  2008.  Administrasi dan supervisi Pendidikan. Bandung :  PT Remaja Rosdkarya.

Fathurrohman. Pupuh. 2011: Supervisi Pendidikan, Bandung : PT Refika Aditama.

Sryana. Aa..  2011.  Supervisi Pendidikan, Bandung : PT Refika Aditama.

Muin, Abdul.  2010.  Kepemimpinan Pendidikan, Pemekasan : PT Remaja Rosdkarya.

Yamin, H. Martinis,  2010.  Standarisasi Kinerja Guru, Jakarta : Gaung Persada

Maisah,  2010.  Standarisasi Kinerja guru, Jakarta : Gaung Persada (GP Press)

Makawimbang. H. Jerry,  2013.  Supervisi Klinis, Teori dan Pengukurannya, Bandung : Alfabeta.
Quinn. Pathon. 1980. Qualitatif Evalucation Methods. Publication. Bavely Hils.

Siagian, H. 1995. Majemen Suatu Pengantar. Bandung. Alumni.

Riyanto, Yatim. 2007. Metodologi Penelitian Pendidikan Kualitatif. Surabaya:UNESA Universitas Press.
Mulyana, E.2007.Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung:Rosda Karya Remaja

Huberman, dan Miles. 1994. Kualitatif Data Analisis diterjemahkan oleh Cecep Rohadi. Jakarta: UI Press.

Ashari, A. 2004. Supervisi Rencana Program Pembelajaran. Jakarta Ciputat Ryanputra.

Burton, WH dan Lee. J. Backer, 1995. Supervision New York. Appleton Century Carrf Inc.

Lipham James, M. et.al.1985. ThepPrincpleship Cencepts Competenceyan Cases. London. Longman Inc.

Sergiovanni, T.J and Strrat, Robert J. 1987. Supervision, Human Perspective dalam  Effendi. 2001. Malang. PPSJ Manajemen Pendidikan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar